Radinka Shatara A _24

Aqiqah

Suasana pagi itu sangat ramai. Udara segar bercampur aroma masakan yang mengepul dari dapur rumah Pak Dukuh. Warga mulai berdatangan, sebagian membawa senyum dan salam. Anak-anak berlarian di halaman, sementara ibu-ibu saling menyapa.

Saya melangkah ke halaman sambil menyapa Pak Dukuh yang sedang sibuk mengatur kursi.
"Wah, ramai sekali, Pak Dukuh. Dari tadi sudah banyak yang datang ya?" tanya saya.
Pak Dukuh tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Nak. Alhamdulillah, warga kompak sekali. Semua ikut membantu."

Di dapur, ibu-ibu tampak sibuk. Panci besar berisi gulai kambing mendidih di atas tungku. Saya melihat Bu Siti mengaduk masakan.

Tidak jauh dari sana, para pemuda mengangkat meja panjang untuk menata hidangan. "Ayo cepat, sebentar lagi tamunya makin banyak," kata ketua pemuda. Saya ikut membantu menggeser meja sambil tertawa bersama mereka.

Acara dimulai dengan pembacaan doa. Suara ustaz memimpin dengan khidmat. Setelah itu, prosesi penyembelihan kambing dilakukan di belakang rumah. Beberapa bapak-bapak berdiri mengawasi.
"Nanti dagingnya langsung kita potong kecil ya, biar cepat dimasak," ujar salah satu bapak. "Siap, Pak," sahut yang lain.

Menjelang siang, makanan siap disajikan. Warga duduk bersama di bawah tenda. Saya duduk di sebelah Pak Dukuh sambil menikmati gulai kambing yang hangat.
"Enak sekali, Pak Dukuh. Gulainya pas sekali bumbunya," kata saya.
Pak Dukuh tertawa kecil. "Itu hasil kerja sama ibu-ibu semua. Kalau masak ramai-ramai, rasanya memang beda."

Kebersamaan begitu terasa. Anak-anak bermain bola di halaman, ibu-ibu bercanda sambil mencuci piring, bapak-bapak berbincang santai sambil menyeruput teh. Tidak ada yang terburu-buru pulang.

Bagi saya, makna aqiqah ini tidak hanya menjalankan sunnah, tetapi juga menjadi momen mempererat tali silaturahmi. Gotong royong, tawa, dan saling membantu membuat pagi yang ramai ini menjadi kenangan indah di hati semua warga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teks Laporan Hasil Observasi : Lab Ipa